Lamunan, Mimpi, dan Rutinitas


Aku terbangun disuatu pagi. Alarm HP yang biasanya berbunyi namun tak berhasil membangunkanku kumatikan semalam karena aku harus menghemat daya baterai. Berharap hari ini merupakan hari baru yang dapat memberikan efek positif kedalam kehidupanku. Setelah melewati berbagai rutinitas dihari itu, aku tertidur dengan nyenyak dimalam itu.

Keesokan harinya, aku kembali terbangun. Sedikit terlambat memang. Berharap hari ini lebih baik daripada kemarin. Aku bersiap-siap sembari mendengarkan radio dimana temanku siaran sebagai ambassador di radio itu. Setelah jam menunjukkan pukul 06:02, aku berangkat kesekolah. Sepanjang perjalanan, aku memperhatikan keadaan sekitar dan terkadang memperhatikan layar HP dimana teman-temanku meng-update lokasinya di grup di WhatsApp. Harapanku, diriku dapat berguna dihari itu (setidaknya). Setelah menjalani rutinitas seperti biasa, aku pulang kerumah sekitar pukul 17.15. Sesampainya di rumah, aku memutuskan untuk melanjutkan tidurku yang tertunda di angkot tadi. Terbangun sejenak dan menatap layar laptop yang meminta untuk segera dimatikan, aku memasang timer 5 menit yang secara otomatis akan mematikan laptop yang sedang menyala. Melamunkan apa yang terjadi dikemudian hari adalah kebiasaanku sebelum berdoa hingga akhirnya tertidur. Apakah dihari esok aku akan menjadi orang yang berguna, atau aku merugi karena tidak lebih dari hari kemarin.

Hari selanjutnya. Setelah terbangun untuk mematikan alarm yang semalam sengaja kunyalakan, aku kembali tidur sejenak. Lalu kuberanjak dari sofa yang menjadi tempat tidur keduaku untuk segera mandi dan bersiap untuk berangkat ke sekolah. Namun apa mau dikata, ternyata kehidupan tak seindah lamunan. Setelah kehidupan di sekolah berakhir, aku kembali tertidur di angkot dan menyadari bahwa keinginanku untuk menjadi orang yang berguna bagi orang disekitarku tanpaknya tidak akan terjadi dihari ini. Mungkin dihari esok, atau besoknya lagi, atau mungkin besoknya lagi.

Hari demi hari kujalani rutinitasku sebagai seorang pelajar, sembari memanjatkan doa yang selalu terucap dalam lamunan yang kini menjadi sebuah mimpi. Menjadi orang yang berguna (setidaknya) bagi orang-orang disekitarku. Walaupun sebenarnya aku adalah pengacau hari setiap orang, dan kemungkinan mimpiku tidak akan terealisasi, tapi aku tak akan menyerah. Aku akan tetap berusaha untuk meminimalisir kesalahan agar tak terulang kembali. Walaupun ujung-ujungnya kembali melakukan kesalahan, namun hanya keledailah yang jatuh ke lubang yang sama sebanyak dua kali.

Sampai sekarang aku masih bertanya-tanya. Kapan semua mimpiku dapat terealisasikan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s